Koranonline.net – Setiap organisasi pada akhirnya akan diuji bukan ketika semuanya berjalan baik, tetapi ketika menghadapi persoalan yang berat dan menyentuh marwah lembaga.
Dalam konteks persoalan yang terjadi di Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat, saya melihat langkah TGB sebagai Ketua Umum PB NWDI menunjukkan sikap kepemimpinan yang tenang, bijak, dan berpijak pada kepentingan yang lebih besar.
TGB tidak memilih untuk membiarkan lembaga berjalan tanpa arah. Sebaliknya, PB NWDI mengambil alih pengelolaan Abul Barokat untuk memastikan proses pendidikan dan pembinaan santri tetap berjalan. Pada saat yang sama, TGB juga menegaskan bahwa dugaan kasus tersebut harus diusut melalui proses hukum.
Bagi saya, di sinilah letak kecerdasan sebuah kepemimpinan: mampu memisahkan persoalan individu dengan keberlangsungan institusi.
Dugaan perbuatan oknum harus dipertanggungjawabkan secara hukum. Tetapi pesantren tidak boleh kehilangan masa depannya, dan para santri tidak boleh menjadi pihak yang paling dirugikan akibat krisis yang terjadi.
Abul Barokat bukan sekadar sebuah nama. Di sana ada santri yang sedang menuntut ilmu, guru yang sedang menjalankan amanah, wali santri yang menitipkan harapan, serta masyarakat yang memiliki kepentingan terhadap keberlangsungan pendidikan.
Karena itu, mengambil tanggung jawab atas pengelolaan pesantren dalam situasi seperti ini menurut saya bukan sekadar keputusan administratif. Ini adalah bentuk tanggung jawab kelembagaan.
TGB sedang menghadapi ujian organisasi dengan prinsip yang sederhana: hukum tetap berjalan, santri tetap dilindungi, dan lembaga tetap diselamatkan.
Bagi saya, inilah sikap yang seharusnya ditunjukkan sebuah organisasi ketika menghadapi krisis: tidak defensif terhadap kesalahan, tidak gegabah menghakimi, tetapi hadir untuk menyelesaikan persoalan.
Semoga langkah ini menjadi momentum bagi Abul Barokat untuk melakukan pembenahan, memperkuat tata kelola, membangun kembali kepercayaan masyarakat, dan menghadirkan lingkungan pendidikan yang benar-benar aman bagi santri.
Sebab pada akhirnya, menyelamatkan lembaga bukan berarti membela oknum. Menyelamatkan lembaga berarti menjaga amanah pendidikan dan masa depan para santri.
Penulis : Toni Jagat Galih
Kader Muda NWDI
